Semua yang manis pasti selalu menyenangkan, bukan? Namun dalam kenyataan hidupengga semuanya manis, begitulah yang dipercayai Lala dalam hidupnya.
“Hidup itu ibarat lolipop, bermacam–macam rasa dan warna–warni! Karena itu hidup jadi lebih menarik, La!” seru Randy menasehati sahabat kecilnya yang sedang patah hati. Sebenarnya Randy mengutip kata–kata tersebut dari Lala saat dia tertimpa masalah.
“Tapi aku malu Ran, aku ke-PDan, pasti semua temen–temen di sekolah ngetawain aku!” ujar Lala yang tak berhenti menangis sejak tadi siang, hingga matanya membengkak.
“Udah La, kamu nangis aja. Tapi.... berenti dong makan permennya. Kamu mau gara-gara putus cinta jadi sakit gigi?” Randy mencoba menghentikan Lala yang gak berenti makan lolipop sejak pulang sekolah.
“Biarin! Gak peduli! hiks..hiks.. aku kira Dimas yang suka ngirim lolipop itu ke aku tiap hari, maka itu aku nembak dia di depan temen-temen. Ternyata.. aku ditolak dan dibikin malu sama dia!” kata Lala saat kembali mengingat kejadian di sekolah tadi pagi.
“Hahaha.. ia aku tau, yaudah siapa tau aja yang ngirim lolipop itu lebih baik dari Dimas..” Randy mencoba menghibur Lala.
“Ah.. Randy tega banget si ngetawain aku. Pokoknya aku gak akan maafin orang yang ngirimin lolipop itu!” kata Lala sambil menonjok bantal.
“Yaudah, aku tinggal dulu ya mau main PS. Inget jangan tidur di kamar aku lagi!” kata Randy seraya meninggalkan kamarnya.
Sejak pulang Lala engga mau pulang ke rumahnya, karena dia merasa membutuhkan Randy untuk jadi teman curhat. Setelah 2 jam Randy meninggalkan Lala di kamarnya, saat dia kembali ke kamarnya Lala tertidur di tepi tempat tidur, Randy menggendongnya di punggung dan mengantarnya pulang.
“Maafin aku..” tanpa alasan Randy mengucapkan itu pada Lala yang tertidur pulas di punggungnya.
***
“Hai La..” sapa Randy saat menghampiri Lala ke kelasnya. Namun Lala tak menghiraukannya, dia diam dengan mata yang masih bengkak, Ia hanya menatap lolipop yang ada di atas mejanya. Tiba–tiba Lala berdiri membawa lolipop itu, Ia berjalan ke depan kelas dan membuang itu di tempat sampah. Lala kembali duduk, Randy hanya memperhatikan yang dilakukan Lala dengan wajah bingung.
“Kok ngebuang permennya sih ? Emang tuh permen salah apa?” tanya Randy dengan nada tinggi.
“Biarin! Aku benci sama lolipop. Lolipop udah buat aku malu!” kata Lala.
“Aku engga nyangka ya.. dulu kamu yang bilang hidup kaya lolipop, tapi karena cowo kamu jadi berubah La!” Randy membentak Lala dengan suara yang cukup besar, lalu dia meninggalkan Lala yang duduk terpaku dan tak mengerti apa yang baru terjadi.
Sejak pulang sekolah Randy tak nampak Lala mencoba menghubungi handphonenya namun tidak ada jawaban. Saat malam hari Lala duduk di taman rumahnya, Randy menghampirinya. Wajahnya nampak murung.
“Ran, kamu kenapa sih?” tanya Lala
“Besok aku tunggu kamu di Dunia Fantasi jam 12, kalau kamu mau tau jawabannya.” jelas Randy dan langsung meninggalkan Lala. Lala semakin tak mengerti dengan sikap Randy.
***
Pukul 12.00 WIB di Dunia Fantasi, Lala sudah sampai dan menunggu Randy di sana. Setengah jam Lala menunggu Randy baru datang, dia masih diam dan murung. Lala pun tak banyak bertanya. Setelah menaiki beberapa wahana, mereka duduk di kursi taman dan memandangi sekitar.
“La, maaf...” Randy membuka percakapan.
“Iya, aku engga pa-pa kok, tapi kamu kenapa ?” tanya Lala.
Randy diam, Dia merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah lolipop mini dan memberinya ke Lala.
“Apaan nih?” tanyanya dengan wajah bingung
“Lolipop”
“Iya, aku tau. Tapi maksudnya apa?”
“Kamu tau siapa yang sebenernya suka kirimin lolipop-lolipop itu ke loker kamu?” Randy balik bertanya.
Lala menggelengkan kepalanya.
“Itu aku La..” jawab Randy.
“Jadi kamu Mr. Lolipop itu ?” Lala menatap mata Randy.
Randy mengangguk. Mata Lala berkaca-kaca, tak percaya dengan pernyataan Randy.
“Aku sayang sama kamu sejak kita kecil” kata Randy dengan gugup.
“Kenapa kamu gak pernah jujur?” tanya Lala.
“Karena aku gak punya keberanian La.” Randy menundukan kepalanya. Tiba –tiba Lala memeluk Randy, Lala menangis tak membayangkan kalau ini terjadi.
“Maaf ya.. tapi.. I am your lolipop, babe, hehehe..” Randy menggoda Lala.
“Randy.. apaan sih.. udah dong.. uhh” Lala melepas pelukannya, wajahnya jadi merah, dan dia memukul lengan Randy.
“Aduh sakit.. Tapi kamu terima aku gak?” tanya Randy dengan senyum nakalnya, Lala tersipu malu dan hanya tersenyum kecil.
Sekarang semua lolipop yang dimakan terasa manis.

No comments:
Post a Comment